Seks dalam Kartu Kredit

Seks? Idih…bukankah soal yang satu ini rada-rada mencengkeram urusan berbicara di atas tempat tidur (pillow talk), atau meneror ukuran Mr.P terkait kejantanan pria atau mengajukan pertanyaan subversif, dan bagaimana perempuan menyikapi soal-soal seperti itu. Ih, soalnya kok sampai nyerempat yang begituan sih.

Jangan dulu mendemonstrasikan rasa jijik kemudian menutup mata dan telinga agar secepat kilat mencitrakan diri sebagai malaikat surgawi. Padahal setiap manusia punya mimpi, dari mimpi seks sampai mimpi berduit. Untuk itu, silakan bertanya kepada dedengkot bapak psikoanalisa Sigmund Freud.

Mimpi selalu mengandung pesan tersembunyi yang berkaitan dengan seksualitas sang pemimpi. Bagaimana mungkin sebuah mimpi berkaitan dengan seksualitas?

Jawabnya, pada dasarnya seksualitas itu tersembunyi atau harus disembunyikan. Ssstt…ngomong begituan jangan disembarang tempat, pesan orangtua kepada putra-putrinya kerap yang dianggap masih bau kencur.

Bukankah pillow talk menjadi waktu yang istimewa ketika dua orang yang saling mencintai berbaring di tempat tidur? Bukankah pria yang “yuniornya” terlihat kecil akan terintimidasi saat melihat pria lain di ruang ganti atau toilet ternyata ukuran Mr P-nya terlihat “wow”?

Mimpi pada dasarnya tampil sebagai suatu pemenuhan harapan. Bagaimana merefleksikan seks, mimpi dan kartu kredit? Pertanyaan itu menyodok kepada satu kata kunci yakni “The American Dream” yang mempengaruhi munculnya kartu kredit sebagai salah satu simbol masyarakat modern.

Dua drama seputar kartu kredit telah mengusik publik. Pertama, meninggalnya Irzen Octa ketika mengurus tagihan kartu kreditnya yang membengkak dari Rp68 juta menjadi Rp100 juta. Kedua, terbongkarnya kasus penggelapan dana nasabah Citibank yang diduga telah dilakukan Relation Manager Citibank Cabang Landmark Melind Dee.

Pelatuk dari dua kasus itu bukan tidak mungkin simptom kartu kredit yang dikomentari oleh majalah People pada 1988 sebagai “memicu rasa ketagihan bukan lantaran dibius pengaruh narkoba melainkan karena diiming-imingi selembar plastik”. Kartu kredit dilahirkan kemudian dibaptis sebagai anak kandung dari American Dream.

Kalau pillow talk menjadi bunga-bunga cinta bagi pasangan di tempat tidur, maka kartu kredit seakan menjadi kenikmatan tersendiri bagi kuliner yang yang sehat bagi masyarakat modern. Baik seks maupun kartu kredit sama-sama tertawan oleh menu harapan merengkuh hidup sukses

Dogma kartu kredit yakni membeli sekarang membayar kemudian. Sedangkan dogma dari harapan, di mata filsuf Gabriel Marcel, yakni melihat manusia sebagai penziarah (homo viator) yang berjalan menuju kemanusiaan lebih penuh dan lebih otentik. Dan kehidupan seks yang sehat melibatkan emosi dan imajinasi seluruh diri masing-masing pasangan.

Dalam buku “Buy Now, Pay Later”, Hillel Black menulis, “Dalam masyarakat modern, berbelanja telah menjadi nilai yang melekat dalam diri manusia…dan kebutuhan itu terpenuhi dengan membayar kontan”. Sementara, peneliti dari Lembaga Riset Motivasi AS, Ernest Dichter menyatakan, “Kartu kredit telah menjadi lampu Aladin bagi masyarakat modern”.

Popularitas kartu kredit telah mentranformasikan karakter masyarakat Amerika Serikat, dari kultur yang puritan menjadi kultur yang serba hedonistik. Meluasnya penggunaan kartu kredit dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai buah kelimpahan dari kehidupan demokrasi. “Amerika yang menghasilkan, Amerika pula yang menawarkan,” tulisnya pula.

Tewasnya Octa yang menjabat sebagai Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) dan penggelapan dana nasabah premium hingga Rp17 miliar oleh Malinda Dee, pegawai bank yang berpusat di AS, sama-sama melibatkan Citibank. Kini kedua kasus itu sedang diinvestigasi oleh polisi.

Sebagai ilustrasi, kasus kejahatan yang melibatkan pegawai bank terus terkuak. Polri menyatakan, sejak akhir 2010 hingga Maret 2011, pihaknya menangani delapan kasus tindak pidana perbankan yang melibatkan orang dalam bank.

Nilai kerugian dari kasus itu diperkirakan Rp78,4 miliar, kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse dan Kriminal Polri Brigjen Arief Sulistyo.

“Total tersangka 24 orang. Sebelas di antaranya oknum pegawai bank mulai dari supervisor, account officer, customer service, kepala operasional, head teller, dirut bank perkreditan rakyat, komisaris hingga komisaris utama,” katanya.

Ketika merespons soal Citibank, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, “Kami meminta penyelesaian masalah tanpa merugikan nasabah, melakukan langkah perbaikan internal control dan sementara waktu menghentikan penghimpunan nasabah baru Citigold.”

Hingga akhir 2010, jumlah kartu kredit Citibank yang beredar di Indonesia sekitar 2 juta. Ini merupakan 15 persen dari total populasi kartu kredit di Tanah Air sebanyak 13,6 juta.

Dan Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menyatakan, “Kami menyetop produk Citigold sejak 16 Maret dan saat ini masih berlangsung”. Citigold adalah layanan khusus perbankan bagi nasabah kaya dengan mengendap minimal Rp500 juta. Citibank sangat getol menggarap produk itu.

Nah, seks dalam kasus kejahatan kartu kredit punya ciri menyeragamkan manusia dalam kerangka kerja teknis dan sistem kerja industri yang menempatkan semua orang sebagai mesin atau sekrup. Nah, jangan sampai kehidupan seks menjadi semata kerja teknis, bukan kerja dari ungkapan cinta sepasang anak manusia.

Kartu kredit mewakili modernisme. Dan modernisme berarti tidak diakuinya lagi ruang napas buat yang ilahi, buat yang religius. Kalau seks telah kehilangan makna surgawi, maka kehidupan seks melorot menjadi semata “instant solution” yang asal cepat, asal langsung dan asal sesingkat-singkatnya.

Sejatinya, drama seks dan drama kartu kredit merujuk kepada terkeping-kepingnya hidup karena yang berlaku justru logika sarana demi mencapai tujuan (means to ends logic). Dan sang anak laki-laki (seperti Oedipus dalam mitologi Yunani) ingin menyingkirkan sang ayah agar bisa tidur dengan ibunya! Idiih….

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin

27 queries 0.317 detik