(ANTARA News/Lukisatrio)

Jakarta (ANTARA News) – Hanya sedikit pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang sadar bahwa penguasaan teknologi informasi (TI) dapat membuka peluang lebih lebar bagi usaha mereka.


Fakta itu menjadikan daya saing rata-rata pelaku UMKM di Tanah Air kian rendah ditambah dengan semakin ketatnya kompetisi terutama dalam menghadapi perusahaan besar dan pesaing modern lainnya.


Perkembangan teknologi yang semakin pesat justru telah menempatkan UMKM pada posisi yang kurang menguntungkan.


Hal itu karena sebagian besar UKM menjalankan usahanya dengan cara-cara tradisional, termasuk dalam produksi dan pemasaran.


Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Choirul Djamhari, mengatakan bahwa belum banyak UMKM di Tanah Air yang mengenal dan menggunakan teknologi informasi dalam menjalankan usahanya.


“Padahal, penggunaan teknologi akan sangat membantu usaha skala mikro dan kecil untuk bisa lebih berkembang,” katanya.


Ia menambahkan selama ini salah satu tantangan yang dihadapi UMKM adalah keterbatasan akses terhadap sumber daya produktif, termasuk teknologi, sarana pemasaran, dan informasi pasar.


Selain itu, masalah yang dihadapi oleh UKM di negara-negara berkembang sebenarnya bukanlah karena ukurannya, tetapi lebih karena isolasi yang menghambat akses UKM kepada pasar, informasi, modal, keahlian, dan dukungan institusional.


“Meskipun peluang yang dibawa oleh TI sangat besar, banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa adopsi TI oleh UKM di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar,” katanya.


Menurut hasil studi lembaga riset AMI Partners pada 2007, hanya 20 persen UKM di Indonesia yang memiliki komputer.


Choirul menduga rendahnya adopsi TI oleh UKM di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pemahaman peran strategis yang dapat dimainkan oleh TI terkait dengan pendekatan baru pemasaran, berinteraksi dengan konsumen, dan bahkan pengembangan produk dan layanan.


Oleh karena itu, pihaknya mendorong perusahaan besar termasuk perusahaan TI untuk memberikan sumbangsih keterlibatan dalam upaya mengkoneksikan UMKM dengan TI.


Salah satu perusahaan TI, PT Bakrie Connectivity, perilis layanan data dan internet AHA Office in the Box (OIB) juga telah menyatakan membidik pasar pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang terdata berjumlah 54,7 juta unit.


“Permintaan teknologi informasi pada pasar UMKM semakin meningkat ditambah pertumbuhan jumlah UMKM yang makin cepat di mana saat ini tercatat jumlahnya mencapai 54,7 juta unit dan menyumbangkan sekitar 53 persen GDP Indonesia. Kami merasa sayang jika segmen ini tidak digali lebih lanjut,” kata Komisaris Utama perusahaan tersebut, Anindya Bakrie di Jakarta, belum lama ini.


Anindya menilai melibatkan diri dalam pasar UMKM justru merupakan peluang yang sangat cerah, oleh karena itu ia mulai menggarap sektor UMKM salah satunya melalui layanan paket internet bisnis yang didesain khusus untuk para pelaku UMKM.


Anindya bahkan berani mengklaim bahwa produknya berupa AHA Office-in-a-Box yang berbasis jaringan CDMA 1X-EVDO Rev A akan menjadi solusi bisnis online bagi UMKM karena dirancang untuk mendukung dan meningkatkan daya saing UMKM.


“Penggunaan AHA Office-in-a-Box akan memberikan keunggulan kompetitif bagi UMKM dan dapat bersaing lebih baik dalam industri yang mereka jalani,”katanya.


AHA OIB merupakan paket internet untuk pebisnis UMKM yang terdiri atas beberapa paket dengan harga yang berbeda, dilengkapi koneksi AHA EVDO dengan kecepatan 3,1 Mbps.


Melek TI


Tak mau kalah, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom) bahkan menyatakan telah memiliki 160.000 usaha kecil menengah (UKM) binaan di seluruh Indonesia.


Saat ini PT Telkom mempunyai misi mengenalkan 60 persen di antaranya kepada teknologi.


“Agar mereka bisa jualan secara online,” kata Pengelola Program Kemitraan Community Development Centre PT Telkom, Asep Saefullah, kepada wartawan belum lama ini.


Dengan berjualan melalui dunia maya, produk UKM cepat dikenal masyarakat, bahkan hingga ke mancanegara. Asep menyebut program tersebut sudah dijalankan sejak tahun lalu. Hingga kini baru dua kali angkatan pelatihan, dengan total peserta sekitar 600 UKM binaan.


Materi yang diberikan seputar pengenalan internet, bagaimana mengunggah materi promosi ke internet, dan cara melayani penjualan, termasuk pembayaran.


Perusahaan TI lain yang bergerak di bidang piranti lunak yang telah lama beroperasi di Indonesia juga enggan ketinggalan.


Microsoft Indonesia belum lama ini mengumumkan telah memberi dana 30 ribu dolar AS untuk mendukung program pemberdayaan UMKM bidang teknologi informasi.


Menurut Next Web lead Microsoft Indonesia, Risman Adnan, program tersebut akan diikuti 100 perusahaan UKM di seluruh Indonesia pada tahun pertama.


Risman mengatakan, setiap UKM bidang teknologi informasi dapat memanfaatkan program tersebut dengan syarat UKM tersebut berjumlah 10 orang.


“Selain itu UKM yang telah menerima bantuan wajib melakukan inovasi atau pengembangan usaha dalam waktu 6 bukan sejak menerima bantuan. Syarat yang kita berikan lebih ringan dibanding India, kalau India syaratnya tiga tahun,” katanya.


Program ini, sambungnya dirancang untunk memajukan UKM TI dari segi inovasi dan desain. Program ini juga untuk menciptakan pasar yang lebih luas karena banyak tergabung dalam banyak jaringan.


Pengguna bertambah


Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, menyatakan bahwa pihaknya akan mendorong terus berkembangnya teknologi dan informasi.

Tifatul berpendapat, perluasan akses telekomunikasi bagi sektor UMKM sangat penting karena hal tersebutlah yang akan meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar UMKM.


“Penggunaan internet bagi UMKM akan memungkinkan mereka untuk bisa go internasional,” katanya.


Pihaknya mencatat saat ini pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang meski sebagian besar masih seputar pengguna jejaring sosial. Namun ke depan Menteri Tifatul berharap penggunaan internet akan berkembang ke arah dan tujuan yang lebih produktif.

Namun, fakta yang ada tidak dapat dipungkiri bahwa adopsi TI di kalangan UKM Indonesia masih rendah.


Meski demikian, banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adopsi TI di antaranya peningkatan keahlian pelaku UKM dalam pemanfaatan TI melalui berbagai pelatihan dan pendampingan merupakan salah satunya.


Banyak pihak dapat berperan, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, maupun lembaga swadaya masyarakat.


Tetapi, hal pertama yang harus dilakukan adalah peningkatan kesadaran (awareness) pelaku UKM terhadap potensi strategis TI dalam pengembangan usaha.


Tanpa kesadaran itu, rasanya akan sulit memotivasi pelaku UKM untuk mengadopsi TI. Singkat kata, pilihan UKM untuk masuk pasar global yang sudah terbuka hanya satu: “gunakan TI atau mati!”
(T.H016/A011)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com