Ikan arwana jenis “Super Red” (FOTO ANTARA/Nurul Hayat)

Jakarta (ANTARA News) – Penghasilan para penangkar ikan arwana jenis “Super Red” bisa dikatakan ibarat seorang prajurit TNI dengan pangkat kopral tetapi mendapatkan gaji setingkat jenderal.


Bagaimana tidak, seorang penangkar di Kecamatan Semitau dan Suhaid yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat per bulannya bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan anakan ikan arwana jenis “Super Red” ke Kota Pontianak, yang kemudian diekspor ke China dan Jepang.


H Dulkarim (44), salah seorang penangkar arwana jenis “Super Red” di kecamatan itu hanya tinggal menunggu indukan arwana bertelur dan menetas hingga menjadi anakan ikan yang siap jual.


“Saya mulai mengembangbiakkan arwana sejak sepuluh tahun lalu dengan modal awal Rp20 juta, dengan membuat kolam secara manual dan membeli dua ekor induk arwana satu jantan dan satu lagi betina,” ujarnya.


Kini Dulkarim yang bisa menunaikan ibadah haji dari penangkaran arwana itu telah memiliki delapan kolam ukuran 6 X 12 meter itu memiliki aset sekitar Rp1,5 miliar dengan asumsi Rp200 juta per kolam.


Satu kolam ada sekitar delapan hingga sepuluh ekor induk, tujuh betina dan tiga jantan. “Satu jantan arwana bisa mengawini dua hingga tiga betina, agar perkembangbiakannya cepat,” kata ayah tiga anak tersebut.


Dulkarim mengatakan, budidaya arwana memang membutuhkan perawatan khusus dan memerlukan tingkat keasaman air dan tanah tertentu. “Asal tingkat keasamannya tetap terjaga maka tidak berpengaruh meski lokasi kolam berada di dekat kebun sawit,” katanya.


Dulkarim menambahkan, dari hasil usaha budidaya arwana ia mampu menyekolahkan anaknya hingga di perguruan tinggi di Jakarta jurusan kesehatan dan mampu membeli dua unit mobil.


Dulkarim beberapa waktu lalu memanen anak ikan arwana sebanyak 200 ekor atau senilai Rp250 juta. “Untuk pemasaran tidak ada masalah, malah ekspor arwana kita ke Jepang, China belum memenuhi kuota,” katanya.


Sementara Sukarman (43) salah seorang penangkar arwana di Suhaid mengatakan, dia menggeluti budidaya arwana baru dua tahun dengan modal kredit bank dan meminjam induk arwana milik keluarganya.


“Budidaya arwana butuh biaya besar, untuk membuat doa kolam saja saya merogoh “kocek” (saku) sekitar Rp50 juta, itu belum termasuk pengadaan induk yang per ekornya bisa seharga Rp15 juta untuk ukuran sedang,” katanya.


Itu pun induk arwana tersebut harus dipelihara paling tidak satu tahun baru bisa menetaskan telur hingga menjadi anakan arwana, katanya.


“Genap dua tahun budidaya arwana saya sudah dua kali panen atau sebanyak 50 ekor dijual seharga Rp2,5 juta per ekor atau sebesar Rp125 juta,” ujarnya.


Namun ia mengakui belum balik modal karena investasinya untuk dua kolam sekitar Rp300 juta.


Budidaya ikan arwana boleh dikatakan gampang-gampang sudah, karena tidak semua penangkar arwana di dua kecamatan itu yang sukses. “Malah ada beberapa kolam milik warga setempat yang sudah belasan tahun tetapi belum juga panen,” kata Sukarman.


Satu induk betina arwana bisa menetaskan telur hingga menjadi anak paling banyak 30 ekor atau senilai Rp75 juta atau bersihnya separoh dari jumlah itu setelah dipotong pembelian pakan, dan satu induk dalam setahun lebih dari sekali menetaskan telurnya.


Camat Semitau Iwan Supardi mengatakan, di daerahnya terdapat sekitar 100 penangkar arwana, dengan rata-rata memiliki lebih dari dua kolam.


Menurut dia, budidaya arwana mulai gencar dilakukan awal tahun 1990-an, ketika ikan arwana endemik TNDS mulai habis diburu oleh nelayan dan warga sekitar danau itu karena harganya yang tinggi.


“Setelah ikan arwana sulit ditemukan, masyarakat mulai beralih membudidayakan arwana dengan membuat kolam, ternyata budidaya arwana di kolam berjalan lancar karena tingkat keasaman air dan tanah di Kecamatan Semitau dan Suhaid sama dengan kawasan TNDS,” ujarnya.


Kini Camat Semitau itu juga telah memiliki empat kolam dengan rata-rata memiliki induk sepuluh ekor per kolam dengan aset miliaran rupiah.


“Saya memilih bertugas selamanya di Semitau agar bisa mengembangkan budidaya arwana. Selain hasilnya besar, budidaya arwana juga mengasyikkan dan tentunya mudah tidur ketimbang jadi kepala dinas atau ditugaskan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu,” kata Iwan.


Menurut camat yang sukses sebagai penangkar arwana itu, satu kolam dengan sepuluh ekor induk arwana bisa menghasilkan Rp40 juta/sekali panen dan per kolam. Dalam sebulan satu kolam bisa beberapa kali panen atau tergantung jumlah induk arwana betina.


Kecamatan Semitau dan Suhaid salah satu daerah penghasil arwana super red endemik Taman Nasional Danau Sentarum.



Dongkrak perekonomian


Wakil Kepala Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Barat, Cabang Semitau Burhanudin mengatakan, budidaya arwana salah satu pendongkrak perekonomian masyarakat di Kecamatan Semitau dan Suhaid.


Perputaran uang di BPD Kalbar Cabang Semitau terdiri dari sektor perkebunan karet sebesar 25 persen, penangkaran ikan arwana 25 persen, sektor perkebunan sawit 20 – 25 persen dan lain-lain, seperti tabungan, giro dan deposito 25 persen, katanya.


Menurut dia, meskipun penangkar arwana jumlah tidak banyak, tetapi sektor itu bisa menyumbang cukup tinggi bagi perekonomian masyarakat Semitau dan Suhaid.


“Karena dari budidaya arwana juga menyerap banyak tenaga kerja dan lapangan usaha laan seperi penyedian pakan ikan dan lainnya,” kata Burhanuddin.


Bupati Kapuas Hulu AM Nasir mengatakan, pihaknya akan terus menjaga kawasan konservasi dan hutan lindung di kawasan TNDS agar semua sektor tetap bisa berjalan sebagai mana mestinya.


Ia mengingatkan investor pengembang perkebunan sawit di kabupaten itu tidak masuk atau menabrak kawasan hutan lindung dan konservasi, agar di satu sisi sektor perkebunan sawit dan karet tetap berjalan, di sisi lain kawasa TNDS dan hutan lindung lainnya tetap terjaga sehingga tidak mempengaruhi budidaya arwana yang menjadi kebanggaan Kapuas Hulu hingga di tingkat mancanegara.


“Semua wajib menjaga kawasan hutan lindung agar kelangsungan TNDS sebagai hutan HoB (Heart of Borneo) atau hutan lindung di Kapuas Hulu sebagai paru-paru dunia tetap terjaga hingga anak cucu kita,” katanya.


Ia mengatakan luas Kapuas Hulu sekitar 29.850 kilometer persegi, 52 persen di antaranya sudah dialokasikan untuk kawasan konservasi.


“Kami tidak menginginkan kawasan hutan lindung dan konservasi tidak dirusak lagi pascamaraknya pembalakan hutan tahun 1980,” ujar Nasir.


Nasir mengancam jika ada pengembangan perkebunan sawit yang masuk kawasan hutan lindung dan hutan konservasi, akan dicabut izinnya.


“Dalam waktu dekat kami akan mengevaluasi semua pengembangan sawit di Kapuas Hulu, kalau ada melanggar kami cabut izinnya,” kata Bupati Kapuas Hulu.


Sementara itu, Pimpinan Sinar Mas Group Wilayah Kalimantan Barat Susanto menyatakan, pihaknya tetap berkomitmen menjaga kawasan hutan lindung dan konservasi.


“Malah kami dengan inisiatif sendiri meminta kajian dari BPKH untuk tidak memasuki kawasan hutan lindung, taman nasional, hutan produksi, hasil kajian areal yang masuk itu segera diajukan ke bupati untuk direvisi,” ujarnya.


Selain tidak menanami hutan lindung dan konservasi Sinar Mas Grup meminta instansi terkait melakukan tata batas antara kawasan perkebunan dengan areal hutan lindung dan konservasi.


“Kami juga membuat papan peringatan yang berisi larangan menebang, membakar dan berburu terhadap satwa yang dilindungi di setiap sudut kawasan hutan lindung,” ujarnya.


Ia menyadari fungsi hutan sebagai penyerap karbon tetap harus dijaga demi menjaga keseimbangan alam dan untuk kehidupan bagi generasi mendatang.


Susanto menyampaikan terima kasihnya kepada Pemkab Kapuas Hulu dan masyarakat di kabupaten itu sehingga bisa mengembangkan perkebunan sawit di kabupaten itu.


Sebelumnya, Eldimart Controler PT KPC mengatakan, pihaknya memang menerapkan penggunaan pestisida dengan sistem tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, serta menerapkan prinsip ramah lingkungan sehingga tidak mengganggu budidaya arwana.


“Selain komitmen kami agar tidak mengganggu budidaya arwana, penggunaan pestisida juga dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur yang berlaku,” katanya.


TNDS selama ini dikenal sebagai perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan. Danau musiman yang berada di TNDS terletak pada sebelah cekungan sungai Kapuas, sekitar 700 kilometer dari muara yang menuju laut China Selatan.


Itu merupakan daerah tangkapan air, sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut.


Dari data WWF (World Wide Fund for Nature) Kalbar, TNDS memiliki ratusan jenis fauna, di antaranya mamalia (Mamal) sebanyak 147 jenis, hampir 64 persen mamalia di Kalimantan terdapat di TNDS, sebanyak 31 jenis reptilia (Reptil) salah satunya buaya katak (Crocodylus raninus) yang di asia telah dinyatakan punah sejak 500 tahun lalu, fauna jenis afes (burung) sebanyak 310, serta sebanyak 265 jenis ikan, dengan jumlah jenis ikannya lebih banyak dari semua jenis ikan air tawar di seluruh benua Eropa.


Kabupaten Kapuas Hulu memiliki luas kawasan lindung, taman nasional dan hutan lindung sekitar 1.626.868 hektare atau 54,59 persen, kawasan budidaya hutan sekitar 764.543 hektare atau 25,65 persen dan kawasan budidaya pertanian bukan danau sekitar 588.481 hektare atau 19,75 persen, serta kawasan danau sekitar 17.925 hektare.(*)


(U.A057/H-KWR)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com