Posts Tagged ‘yang’

Cerita Tentang Bangsa Yang Tabah Menghadapi Bencana

Seorang wanita diselamatkan dari wilayah tergenang banjir oleh Tentara Jepang di Kota Ishimaki, Prefektur Miyagi. (FOTO ANTARA/REUTERS/Kyodo)

Pada situasi seperti ini, saya tak ingin mengatakan hal-hal buruk mengenai orang lain atau menyalahkan mereka”

Rikuzentakata (ANTARA News) – Tiga malapetaka telah menghajar Jepang, negeri pulau yang terkenal karena sushi, Sony dan Samurai-nya itu.

Gempa bumi dahsyat menerjang sebelah timur laut negeri itu, diikuti oleh bencana tsunami dan reaktor nuklir yang bocor mengeluarkan radiasi.

Ribuan orang mati, dan harapan meredup untuk menemukan 12.000 orang yang dinyatakan hilang.

Selama berhari-hari dunia menyaksikan para korban selamat yang kebanyakan orang tua dan tinggal di desa-desa seperti Minami Sanriku dan Rikuzentakata, menderita, kehilangan orang-orang tercintanya, dan diserang udara dingin.

Seorang wanita berumur 85 tahun yang kehilangan saudaranya akibat tsunami, bernaung di sebuah pusat pengungsian di Rikuzentakata di Prefektur Iwate.

Sakiko Kono, nama nenek itu, mengatakan dia lari dari desanya di dekat pantai, di mana sebelum ini tinggal menyendiri.

“Semua orang mengalami masa yang sulit, maka itu saya hanya ingin bertahan,” kata Kono.

Bahkan bagi orang Jepang yang terbiasa dianggap sebagai contoh manusia yang bertanggungjawab, berani, dan berdaya tahan, bencana ini memaksa mereka untuk merenungkan kembali siapa mereka sebenarnya.

Tapi ini bukanlah kehormatan Samurai dan reputasi prilaku matang serta kesangatsopanan yang memenuhi jiwa mereka. Ini jauh lebih sederhana dari itu.

Ini adalah soal bencana yang kembali mendekatkan lagi Jepang ke akar agrarisnya, bertahun-tahun dari masa modern Japan Inc.

Ketabahan yang terlihat di  Tohoku, istilah geografis untuk negara ini, adalah milik kaum petani dan nelayan Jepang, bukan pejuang atau pengusaha.

“Di pusat masyarakat petani adalah wujud  bahwa sekeras apapun Anda bekerja, cuaca yang berubah dapat membuatmu kehilangan,” kata penyair Kundo Koyama. “Itu adalah kultur ketidakberdayaan.”

Menolak bantuan luar

Koyama, penulis skenario untuk film peraih Oscar 2008 “Departures”, dan tinggal di Yamagata, salah satu prefektur di timur laut yang terkena gempa dahsyat, yakin bahwa akar masyarakat petani inilah yang menjadi jalan bagaimana orang bisa bersama-sama.

“Instingnya adalah menyimpan persediaan, menolong sesama dan menjadi masyarakat yang mandiri bertahan,” katanya.

Sekalipun jauh dari tanah airnya, orang-orang Jepang selalu melihat ke dalam ketika menyangkut kekuatan dirinya dan bahkan akan malu ditawari bantuan oleh orang luar.

“Dengan penuh hormat, kami menolak menerima bantuan dari luar,” kata Tomoko Hirai, yang tinggal di London, sementara anak-anaknya belajar di sebuah sekolah Inggris.

“Ini yang menjadi pertimbangan pemerintah kami, baik di masa ini maupun selama gempa bumi Kobe (1995) yang menewaskan lebih dari 6.000 orang,” sambung Hirai.

Manakala relawan pemadam kebakaran bernama Takao Sato (53) mengetahui baik bosnya di pemadam kebakaran dan saudara iparnya hilang ditelan bencana, dia tidak berhenti bekerja demi mencari kedua kerabatnya itu.

Sebagai deputi di divisinya, Sato mengisi pos yang dulu diisi bosnya dan melanjutkan operasi mencari jenazah.

“Saya bertugas untuk masyarakat,” katanya.

Prilaku yang tidak egois itu kerap digugahkan di Jepang oleh pujangga kelahiran Iwate, Kenji Miyazawa, yang belakangan ini terus dikutipkan untuk menggambarkan kemahaberanian masyarakat timur laut Jepang.

Satu koran Amerika menjuluki para insinyur berpakaikan seragam antiradiasi yang dengan gagah berani menantang bahaya radiasi untuk terus bekerja di reaktor-reaktor nuklir, dengan sebutan “The Fukushima Fifty”.

Suratkabar Asahi Shimbun menyamakan para insinyur pemberani ini dengan cerita kepahlawan karya Miyazawa tentang seorang anak yang mengorbankan diri untuk menyalakan gunung berapi demi menyelamatkan penduduk desa dari kebekuan yang mematikan selama musim dingin yang menusuk kulit.

Sebuah bait puisi Miyazawa berbunyi “Ame ni mo makezu” yang melukiskan daya tahan manusia dalam menghadapi alam, dikutip oleh aktor Ken Watanabe yang kemudian disiarkan oleh radio internet ke seluruh negeri.

Di jantung semangat tabah masyarakat Jepang timur laut adalah pentingnya untuk senantiasa bertalian satu sama lain dengan masyarakat mereka.

“Pada situasi seperti ini, saya tak ingin mengatakan hal-hal buruk mengenai orang lain atau menyalahkan mereka.  Itu semua membuat saya sedih,” kata Sakari Minato, dealer mobil berusia 47 tahun di Yamadamachi yang juga di Prefektur Iwate.

Rumahnya dihancurkan gelombang tsunami. Dia dan keluarganya kini tinggal di rumah kerabatnya.

“Pada waktu seperti ini, yang paling penting adalah berhubungan dengan orang-orang,” katanya.

Bahkan di masa krisis, penduduk timur laut Jepang yang kota mereka gelap gulita, kembali ke akar komunitasnya.

“Saya tak pernah mengira kota kelahiranku akan seperti ini,” kata penyanyi Masao Sen ketika mengunjungi pusat pengungsian Sakiko Kono.

Sen yang asli orang Rikuzentakata adalah artis terkenal di Jepang.

Penyanyi balada lagu-lagu “enka” yang telah berusia 63 tahun dan kerap menggambarkan kehidupan yang keras di wilayah timur laut itu, berbagi semangat dengan para korban ketika anak-anak dan orang tua mengerumuninya untuk berjabat tangan dan berfoto.

“Jepang tidak jatuh panik dan tidak kehilangan ketertibannya.  Di negeri-negeri lain, mungkin ada penjarahan. Inilah standard hidup tinggi rakyat di sini,” kata Masao Sen. (*)

Reuters/Jafar Sidik

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tags: , , , , , ,

Boomers–Generasi Surabaya : Ngamen untuk Membantu Anggota yang Sakit

Siapa tak kenal Boomerang? Grup band Surabaya yang ‘lahir’ tanggal 8 Mei 1994 dan kini diawaki Roy Jeconiah (vokal), Hubert Henry Limahelu (bas), Farid Martin (drum), dan Andry Franzzy (gitar) itu tetap eksis meski belakangan tumbuh puluhan bahkan ratusan grup band baru.

Dukungan Boomers (fans Boomerang) tak lepas dari keberhasilan Boomerang. Di hampir setiap provinsi di Indonesia bisa dipastikan hadir Boomers yang sangat fanatik. Dan nama di tiap-tiap daerah berbeda.

Boomers Surabaya misalnya menamakan diri mereka Generasi. Nama itu diambil dari judul lagu di album Disharmoni (1996).
“Semua nama Boomers di tiap daerah memang diambil dari judul lagu Boomerang,” tutur Tulus, koordinator Boomers Surabaya.

Pria yang sehari-hari montir ini mengaku anggota Boomers Surabaya sekitar 5000 orang. Namun, yang memiliki kartu anggota (KTA) hanya 50 orang. Untuk anggota yang memegang KTA memang dikenai iuran Rp 5.000/bulan. Mereka akan diberi kesempatan utama untuk bertatap muka dengan personel dan berfoto bareng setiap grup band beraliran rock ini pentas di Surabaya.

Meski Boomerang lama tak hadir lewat album baru, namun Tulus mengaku selalu ada anggota baru. “Rata-rata ada sedikitnya 25 anggota baru yang selalu hadir di setiap konser Boomerang,” paparnya.

Karakter personel Boomerang yang low profile dan tak segan cangkruk bersama penggemarnya inilah yang membuat band idola dan penggemarnya ini tak ada jarak. “Kalau lagi di Surabaya, Roy selalu mampir rumah. Dan kalau ketemu mbah (nenek), pasti bisa ngobrol sampai pagi,” beber Tulus yang menggunakan rumahnya di Jl Rajawali 47 sebagai markas Boomers Generasi.

Tak hanya itu. secara bergantian Boomers di seluruh Indonesia selalu berinisiatif menggelar pesta untuk merayakan ulang tahun Boomerang. Dan personel Boomerang pasti meluangkan waktu untuk hadir di acara special tersebut. “Tapi untuk ulang tahun ke-17 ini diambil manajemen dan acaranya dipusatkan di Depok,” cetus Tulus.

Soal iuran Boomers Generasi, kata Tulus, hanya digunakan untuk kepentingan anggota yang membutuhkan. “Intinya dari anggota untuk anggota. Jika ada anggota tertimpa musibah, atau sakit, kami akan jenguk dan bantu dengan dana tersebut,” ungkapnya.

Loyalitas tinggi ini juga diwujudkan Boomers Generasi dengan ‘konser jalanan’ yang mereka lakukan secara rutin. Dengan kemampuan bermusik yang mereka miliki, Boomers Generasi akhirnya dipercaya mengisi pentas di Taman Bungkul, Plasa Surabaya, taman depan Grahadi, dan panggung di Kebon Binatang (Bonbin) Surabaya.

Sambil ngamen melantunkan lagu-lagu Boomerang, mereka mengelilingkan ‘kotak amal’ kepada para penonton. Hasilnya pun lumayan, sekitar 20.000-100.000 setiap pementasan di tempat-tempat tersebut.

“Kami sebetulnya diminta rutin mengisi Bonbin, tapi waktunya selalu berbenturan dengan kerjaan,” ujar Tulus. pra

Dibaca: 3232 

Tags: , , , , , , ,

Zulfa : Mimpi yang Tertunda

Setelah sempat tertunda karena keikutsertaannya di ajang Indonesian Idol 2010, Zulfa Tisa Shafira akhirnya meneruskan keinginannya sekolah musik di luar negeri. Kamis (3/3), sulung dari tiga bersaudara ini bakal terbang ke Australia.

Zulfa akan belajar tentang vokal di Australian International Conservatorium Of Music (AICM) di New South Wales, Sydney. “Ini mimpi yang tertunda,” kata Zulfa ketika bertandang ke Kantor Harian Surya, Selasa (1/3).

Sebagaimana diketahui, Zulfa mendapat beasiswa dari AICM untuk tahun 2010. Namun jebolan SMA Negeri 16 Surabaya ini minta ijin bergabung dengan AICM tahun 2011.

Tekad gadis yang terlahir kembar ini sebetulnya ‘menentang arus’. Pasalnya, sang ayah ingin dirinya meneruskan pendidikan di jurusan kedokteran. Namun keinginan kuat gadis ini tampaknya tak bisa dihentikan.

“Kami akhirnya melihat minat Zulfa di bidang ini memang besar. Karena itu, kami mendukung dan memberi semangat agar keinginannya bisa terlaksana dengan baik,” ujar Wilujeng Harimulyati Agustini, ibunda Zulfa yang mendampinginya.

Gadis kelahiran Surabaya, 15 Januari 1992 ini sadar tantangan di industri musik Tanah Air, tidak mudah. Karena itu, Zulfa yang selalu menggores prestasi sejak di bangku SD ini akan serius menempuh ilmu yang diminatinya itu untuk nantinya menembus belantara musik Indonesia.

“Kalau pun tak jadi penyanyi, kan bisa berperan di belakang layar,” pungkas gadis yang ternyata sudah punya tabungan dua buah lagu yang disebutkan siap ditawarkan ke penikmat musik Tanah Air.pra

Dibaca: 64 

Tags: , , ,

Kecil, Peluang Korban Yang Hidup

Christchurch – Empat hari sudah regu penolong bahu-membahu mencari korban hidup gempa bumi Christchurch. Kebanyakan dari mereka hasilnya nihil.

Namun begitu, ada bagian tim yang memang menemukan korban tewas. Maka, penghitungan terkini, Sabtu (26/2), menunjukkan bahwa jumlah korban tewas ada 123 orang. Diduga, 200 orang masih hilang.

“Tapi, peluang untuk menemukan korban selamat memang mengecil,” ujar salah seorang penyelamat.

Wali Kota Christchurch Bob Parker tetap memuji proses evakuasi.  Menurutnya, ratusan petugas penyelamat yang berasal dari delapan negara memilki semangat yang luar biasa.

Dalam catatan Parker, pasokan energi di kota itu sudah mencapai separuh dari kapasitas sebenarnya. Dia optimistis, beberapa hari ke depan, pasokan itu sudah penuh. kompas.com

Dibaca: 172 

Tags: , , , ,

Qory Sandioriva: Saya yang Menyakiti

Qory Sandioriva. Foto: kompas images/fikria hidayat

Putri Indonesia 2009 ini rupanya bosan menjadi orang ‘tersakiti’. Kali ini, dia bertekad bisa menjadi orang yang menyakiti.

Untung karakter antagonis ini hanya dilakukan gadis kelahiran Jakarta, 17 Agustus 1991 ini hanya di film terbarunya. Peran ini diakui Qory beda dengan yang pernah dilakoni di sinetron dan FTV sebelumnya.

Seperti apakah aksi ‘sadis’ yang bakal dilakukan wakil Indonesia dalam ajang Miss Universe 2010 ini di film bertajuk Purple Love tersebut? Qory tak memberi gambaran detil.

Yang pasti, jebolan SMA Al Azhar 1 Jakarta ini menyatakan, perannya di film yang juga diperkuat Nirina Zubir, Kirana Larasati, dan Henidar Amroe ini menyuguhkan tantangan baru yang tentu bakal menguji kemampuannya berakting.

”Minat saya memang pada seni. Saya memang cinta seni, untuk itulah saya memilih bermain film. Saya juga ingin jadi musisi. Sekarang sedang belajar. Sebagai Puteri Indonesia, saya juga bertanggung jawab untuk kegiatan yang berkaitan dengan seni budaya,” cerita Qory, akhir pekan lalu.

Dengan berakting, dia merasa ikut memopulerkan seni budaya Indonesia. Meski demikian, Qory mengaku akan selektif memilih peran yang akan dimainkannya. Sinetron terakhir yang dibintanginya adalah Bintang untuk Baim.

Qory mengaku hanya mempunyai sedikit waktu untuk persiapan syuting film yang juga menampilkan personel Ungu ini sehingga harus ada persiapan fisik dan mental untuk memahami karakter yang akan diperankannya.

Dibaca: 964 

Tags: , , , ,

“Kesannya Rakyat Yang Disuruh Menyelesaikan”

Sejumlah personel Brimob Polda Metro Jaya berjaga di sekitar masjid jamaah Ahmadiyah, Al Hidayah, di jalan Balikpapan, Jakarta. (ANTARA/Fanny Octavianus)

Saya bosan dengernya. Hari ini korupsi pajak, besok SARA, besoknya lagi susu formula, capek deeh”

Jakarta (ANTARA News) – Entah persoalan mana yang pernah diselesaikan dengan tuntas oleh bangsa ini.  Kasus mafia pajakkah, kerusuhan bernuansa SARAkah, pemberantasan korupsikah, kerukunan beragama, atau apa lagi?

Yang justru sering terjadi adalah kasus baru terkesan dipakai untuk menutup kasus lama. Istilah kerennya cover up atau mengaburkan.

Keadaan ini tentu saja membuat bingung rakyat kebanyakan, bahkan mereka seperti kehilangan pedoman, setidaknya ini tergambar dari pandangan sejumlah orang yang ditanyai ANTARA News dua hari belakangan.

Ada banyak orang yang justru meminta penguasa dan pemimpin –entah yang berada di parlemen atau eksekutif– untuk menyelesaikan dulu persoalan-persoalan yang sangat nyata dihadapai masyarakat, misalnya soal harga kebutuhan pokok.  Sebutlah harga cabai yang beberapa waktu lalu, ujug-ujug melambung entah kenapa.

“Saya pikir apa yang nyata saya rasakan itu adalah yang saya rasa benar,” kata Joni Susanto (37), karyawan sebuah bank swasta di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Meski kini urusan cabe tidak lagi menjadi masalah, demikian Joni, rakyat seharusnya mendapatkan jaminan bahwa persoalan harga tiba-tiba melonjak atau stok barang tiba-tiba menipis, tidak boleh lagi terjadi di masa mendatang.

Joni –tentu saja masih banyak lagi selain dia– menilai persoalan melambungnya harga cabai hingga tembus seratus ribu rupiah per kilogramn beberapa waktu lalu sangat mempengaruhi kehidupannnya dan melukai hati rakyat.

Dia bahkan mengenang pengalaman pahit sewaktu berbelanja di pasar.  Waktu itu dia harus beradu mulut dengan sang pedagang yang mematok harga tanpa jelas sebab musababnya.

Joni ingin keadaan tiba-tiba yang tanpa sebab, menyangkut harga barang ini, tidak terjadi lagi. Dia berharap pemerintah mengambil peran yang aktif untuk ini.

“Pemerintah kesannya tak berdaya mengendalikan. Sudah mahal, langka lagi barangnya,” katanya.

Warsono (31), pedagang mie ayam di terminal Blok M bersuara senada dengan Joni.

Dia bahkan makin bingung, ketika dihadapkan pada persoalan melambungnya harga, malah di depan dirinya tersaji kabar yang riuh rendah mengenai Gayus Tambunan dan kasus mafia pajak.

“Saya sama sekali nggak paham isu Gayus dan mafia pajak itu. Mungkin karena saya lebih peduli kepada soal hidup sehari-hari aja kali ya? kayak harga cabe itu,” katanya.

Warsono mengaku bingung karena soal-soal keadilan dan hukum seperti dalam kasus Gayus itu seringkali dibawa ke soal-soal politik yang dinilainya malah kian membuat bingung.

Pengalihan isu?

Belum tuntas soal Gayus dan kasus mafia pajak, serta kasus-kasus besar lainnya sebelum itu, tiba-tiba masyarakat harus menyaksikan lagi persoalan dramatis berbau SARA, ketika terjadi bentrok di Cikeusik dan anarki di Temanggung.

Dalam soal ini, Rahmat Nur Salim (22), mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta, menilai persoalan SARA dan kasus Ahmadiyah menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia, yaitu –sebutnya– tidak berdayanya negara menjaga integrasi bangsa.

Anak muda ini cenderung meyakini, persoalan-persoalan baru yang tiba-tiba muncul atau dimunculkan, adalah upaya mengalihkan ketidakberdayaan mengatasi persoalan sebelumnya.

“Jika sudah begini, kerukukan antarumat beragama adalah omong kosong belaka,” katanya.

Sebagian kalangan masyarakat malah menilai isu-isu baru yang lalu dipublikasi media belakangan ini adalah main-mainan politik belaka.

“Susah untuk dipercaya. Belum tuntas isu satu, sudah muncul isu lain yang tak kalah seru,” ujar Ahmad Baihaqi, karyawan swasta di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

Ahmad termasuk jenis masyarakat kelas menengah yang tidak gampang percaya oleh isu-isu yang tiba-tiba muncul menjadi bahan perdebatan hangat di publik.

“Itu kan semuanya persoalan sepele yang dipolitisasi pihak-pihak tak bertanggungjawab. Jadinya, rakyat dan media menjadi korban kebohongan,” katanya.

Mengambil isu lain, Edrick William (23), bersepakat bahwa isu-isu baru yang muncul kemudian setelah isu-isu lama yang tidak pernah tuntas diselesaikan itu, memang permainan politik saja.

Edrick menunjuk topik bursa pemilihan Ketua Umum PSSI yang disebutnya hanya main-main politik. “Isu ini jelas sudah dipolitisasi,” katanya.

Edrick mengatakan akal sehatnya sama sekali tak bisa menerima korelasi antara semangat sportif dalam olah raga dengan lolosnya seorang mantan terpidana kasus korupsi sebagai calon ketua PSSI.

“Publik sepakbola Indonesia seperti ‘dikadali’ saja,” sambungnya.  Bagi yang belum tahu ‘dikadali’, artinya ditipu mentah-mentah.

Cepat menguap dan pudarnya persoalan yang sebelumnya dianggap gawat dan kritis, membuat banyak orang bosan mengikuti dan mendengarkannya.

“Saya bosan dengernya.  Hari ini korupsi pajak, besok SARA, besoknya lagi susu formula, capek deeh,” ujar Dwi Astuti (33), karyawati Perum Pegadaian di kawasan Fatmawati, Jakarta.

Pemberitaan yang tiba-tiba menghentak, tapi tiba-tiba hilang tanpa akhir yang jelas ini membuat Dwi bingung sendiri, hingga membuatnya bosan setengah mati.

Belum tuntas dan gagal mendapatkan jawaban untuk isu-isu menghebohkan, ke hadapan Dwi mampir lagi kabar film Barat yang disebut-sebut bakal hilang dari bioskop.

“Ya, percaya nggak percaya. Yang jelas sempurnalah kebingungan saya ini,” kata Dwi.

Emir Husein (23), mahasiswa sebuah perguruan tinggi di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, bahkan menilai isu-isu baru memang sengaja diciptakan, untuk kemudian dimakan media massa.

Ironisnya, karena sering berakhir tanpa solusi dan jawaban, lagi-lagi rakyat bertambah bingung, katanya.

Emir mengakhiri, “Kesannya rakyat yang disuruh menyelesaikannya, padahal paham juga tidak.” (*)

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tags: , , , ,

Inilah Foreplay yang Dibenci & Disukai Pria

IBARAT sebuah pepatah, “Banyak jalan menuju Roma” begitu juga dengan kepuasan di atas ranjang. Banyak trik dan cara menuju “tempat bahagia” berdua, salah satunya mungkin sudah pernah Anda ketahui dan praktikan saat foreplay di atas ranjang.

Berikut ini trik foreplay yang pria benci dan sukai, seperti yang dilansir Cosmopolitan.

Cukup 1 kali saja…

Lelehan cokelat

“Mungkin terdengar nikmat saat teori, tapi saya benci ketika lelehan cokelat tadi mengotori sprei kamar kami dengan noda yang tidak mudah hilang.” Jeff (21).

Lilin beraroma

“Lilin beraroma vanilla hanya mengingatkan saya pada rumah nenek!” Casey (19).

High heels

“Awalnya dia terlihat seksi dan sangat menggiurkan dengan high heels itu. Tapi lama-lamaan ujung heels yang runcing ternyata menyakitkan saat tak sengaja terkena kulit.” Wes (30).

Losion tubuh

“Memang tercium wangi, tapi begitu saya mulai menjilati tubuh dia rasanya sangat pahit di lidah.”  Thomas (22).

Sekali lagi, please

 Polaroid

“Suatu hari istri meminta saya memotret dia saat sedang melakukan posisi woman on top. Foto itu menjadi kenangan sepanjang masa.” Marcus (26).

Wig

“Di hari anniversary kami, sebelum beranjak ke ranjang istri mengenakan wig dan memperlihatkan kepribadian yang sangat berbeda. Dia terlihat sangat hot dengan wig itu.” Jared (22).

Stocking

“Satu kali istri menyuruh saya mengikat tangan dia menggunakan stocking dan kemudian memuaskan hasratnya, itu merupakan pemaksaan yang saya lakukan tanpa keluhan sama sekali.” Hamid (27).

Lipstik

“Dia terbiasa menuliskan kata-kata nakal di seluruh bagian tubuh saya menggunakan lipstik. Aksi ini diakhiri dengan kecupan bibir dia di bagian tubuh saya tadi.” Doug (20).

EnvisionStar Hosting

Tags: , , , , ,

Ini yang Pria Mau di Atas Ranjang? Anda Bugil &…




Lifestyle » Lust and Love » Ini yang Pria Mau di Atas Ranjang? Anda Bugil &…


Sabtu, 19 Februari 2011 – 14:41 wib

Lastri Marselina – Okezone

MUNGKIN selama ini Anda mendengar berbagai mitos bagaimana memuaskan suami di atas ranjang. Menjilat dia di bagian ini, menciumnya di bagian sana, tapi tidak semuanya itu benar.

Nyatanya, pria mengidamkan jenis foreplay yang jauh berbeda dengan wanita –sebuah gerakan “hot” yang akan memengaruhi pikiran dia juga.

“Maka, jangan pernah ragu mengeksplorasi bagian tubuh erotisnya,” jelas Carole Altman PhD, penulis buku You Can Be Your Own Sex Therapist.

Berikut ini enam trik yang membuat dia meneriakkan kenikmatan, seperti dilansir Cosmopolitan.

Melihat Anda bugil

Tanpa Anda sadari, pasangan sangat memerhatikan setiap gerakan Anda melepaskan busana seinci demi seinci. Untuk itu, lepaskan busana secara perlahan dan agak jauh dari jangkauan tangan dia, agar Anda dapat memanjakan mata dia juga.

“Saat seorang pria melihat subjek sensual, testoteronnya akan meningkat dan akan berpengaruh juga terhadap libido dia. Semakin Anda membiarkan dia melihat momen Anda membuka busana, akan semakin terangsang dia,” papar Dr Carole.

Mendengar pujian Anda

Sebelum dia mulai penetrasi, dekatkan bibir Anda ke telinga pasangan dan bisikkan betapa hebatnya dia telah membuat Anda terangsang.

“Pria tidak terbiasa dengan percakapan yang lembut dan sensual, yang dia inginkan adalah apresiasi Anda terhadap setiap aksi dia di atas ranjang,” imbuh Yvonne K Fulbright, penulis buku The Hot Guide to Safer Sex.

Pria menikmati kenikmatan di dua bagian tubuhnya sekaligus

Setelah membenamkan lidah Anda ke dalam mulutnya, secara perlahan isap ujung lidah dia ke dalam mulut Anda.

“Sensasi menjilat dan menghisap lidah ini akan meningkatkan pola dasar hasrat bercinta yang pria sukai,” sahut Joy Davidson PhD, penulis buku Fearless Sex sekaligus terapis seks asal New York.

Atau coba trik berikut, saat Anda melakukan ciuman lidah, secara perlahan arahkan tangan Anda ke Mr P dan lakukan gerakan-gerakan seperti mengelus, memutar, dan memijat. Dijamin, si dia akan sangat menikmatinya.

Cium garis perut bawah dia

“Kebanyakan pria menyukai ciuman di area sensitif yang dinamakan garis perut bawah,” ucap Dr Yvonne.

Cium ujung Mr P

Ujung kepala Mr P begitu sensitif terhadap setiap rangsangan. Coba trik ini, begitu ujung Mr P penetrasi secara perlahan kencangkan otot panggul Anda –gerakan sama seperti menahan laju air seni– untuk menahan Mr P bergerak lebih jauh.

“Gerakan ini akan memenuhi ujung Mr P dia dengan sensasi hangat, basah, dan remasan yang membuatnya makin terangsang. Setiap denyutan Miss V akan membuat pasangan semakin mendekati klimaks,” tutup Dr Joy.

(tty)

















EnvisionStar Hosting

Tags: , , , , , ,

Ekologi yang Terdera

(ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta (ANTARA News) – Dalam buku “The Power of Sustainable Thinking” (2008), Bob Doppelt berujar The earth’s natural capital-ecological wealth not created by, but essential for, human survival – as well as social and economic well-being are at grave risk.  The way in which society responds to these challenges will define the winners and losers of the future.  

Keniscayaan kekhawatiran Bob akan terkuburnya jagat ini kiranya cukup bisa dicerna nurani.  Millenium Ecosystem Assessment (2005) melansir bahwa 2/3 servis ekologis yang alam anugerahkan dalam bentuk air dan udara bersih telah berangsur mengalami terpaan degradasi dan dimanfaatkan secara tak berkelanjutan.

Selanjutnya WHO (2007) mengisahkan 40% penyebab kematian saat ini bermuasal dari pencemaran air dan udara.  Di antara 6,5 miliar manusia, 57%-nya malnutrisi.  Bandingkan dengan 20% malnutrisi ketika penduduk bumi 2,5 miliar (1950).  Bukannya makin sejahtera, tapi malah menukik keterpurukan !

Diperlukan kerja kolektif dalam menghambat laju degradasi alam ini.  Sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan level individu, sejatinya terus mengemuka  sebagai sebuah diskursus yang tak henti-hentinya diformulasikan, dikumandangkan, dan konsisten diaplikasikan.    

Tanpa kolektivitas, pengelolaan lingkungan niscaya hanya berbuah keberlanjutan kerusakan. Simak, pengelolaan  sampah saja, kita masih open dumping, dengan menyemutnya pemulung mengais rejeki di bukit sampah.  Bahkan sebuah tayangan TV melansir ada segelintir pemulung mengkonsumsi makanan basi yang telah jadi sampah  !  Sebuah potret kemelaratan segmen masyarakat pinggiran yang miris ?

Sepanjang penanganan sampah di TPA masih konvensional, maka percuma saja kita berkoar untuk mensortir sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan non organik, karena tokh akhirnya dicampur juga menjadi gunungan aneka rupa sampah.

Potret Permasalahan Ekologis
Raut wajah ekologi mulai didera ancaman sejak bermulanya revolusi industri di Inggris sekitar abad 18.  Peningkatan kesejahteraan sebagai konsekuensi positif dari pertumbuhan industri merangsang peledakan penduduk.
 
Belenggu penjajahan yang melanggengkan kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan yang telah mengekang pertumbuhan penduduk, telah terserabut semenjak berseminya perubahan peta geopolitik besar-besaran, dengan merdekanya negeri terjajah di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, juga memicu peledakan populasi manusia sejak abad 19.  

Bayangkan penduduk bumi ini mengalami dubbling beberapa kali hanya dalam rentang waktu 100 tahun.  Pada tahun 1900 total penduduk jagat ini 1,6 miliar, lalu tahun 2000 meroket menjadi >6 miliar.  Porsi terbesar (hingga 80%) booming penduduk terjadi di mantan negeri terjajah.

Implikasinya semakin banyak sumberdaya alam terbarukan dan tak terbarukan yang digerus akibat ketamakan, semakin beragam bahan artificial (non alamiah) diproduksi, semakin besar volume pencemar dirilis ke lingkungan, semakin rentannya kelentingan (resiliensi) ekologis,  dan semakin kerap pula anomali alam mampir sebagai reaksi kemurkaan. 

Bahan artificial terkreasi melalui proses rekayasa.  Terkadang bahan artificial menjadi sangat murah dan massal penggunaannya di masyarakat.  Sebutlah plastik,  betapa benda ini bisa ditemukan hingga pelosok manapun di persada ini. 

Di laut, di hutan, di kampung terpencil, apalagi di daerah urban, mata kita selalu dihiasi dengan berserakannya sampah kantong dan botol plastik. Parahnya, plastik dan sterofoam berkarakter persisten dan rekalcitran, terus ada di alam dan sulit terdekomposisi.

Adakah kebijakan pemerintah yang menghambat penggunaan plastik ? Rasanya belum ?  Kitapun juga telah dimanja dan praktis berbudaya plastik.  Manakala berbelanja bulanan di supermarket, pernahkah kita membawa tas  jinjingan sendiri dari rumah ? Kiranya sudah tak ada lagi ibu modern yang berperilaku demikian, yang ada adalah disibukan dengan berbagai macam kartu ATM,  kartu kredit,  beberapa buah HP, parfum, dan peralatan kecantikan  !

Tergerusnya kebiasaan ibu kita tempo dulu yang selalu menenteng tas belanjaan ke pasar, disambut obral plastik gratis dari supermarket, sebagai bentuk pelayanan prima yang salah kaprah, dan sebetulnya jauh dari ramah lingkungan.  

Kalau kita belanja pakaian, makanan jadi, bahan mentah, obat-obatan, bahan pembersih, sudah pasti barang-barang tersebut akan dikemas dalam beberapa plastik terpisah, lalu dikantongi lagi dalam plastik besar.  

Di salah satu supermarket di Inggris, sekiranya bawa tas belanjaan dari rumah, maka tas tersebut dihargai beberapa cent Poundsterling.  Kantong plastik dijual mahal, tidak gratis seperti di negeri kita.  Di Jerman dan Jepang, sebuah rumah tangga yang tidak mensortir sampahnya menjadi sampah organik, kertas, botol, dsb, maka jangan harap sampah tersebut akan dipungut oleh tukang sampah yang datang secara berkala ke rumah.

Permasalahan ekologis yang kerap singgah di negeri kita hari belakangan ini, disinyalir sebagai resultante dari tidak bijaknya kita dalam berkawan dengan alam.  Penambangan batu bara di Kalimantan, penambangan timah di Bangka Belitung, menyisakan kolam-kolam raksasa idle.  Pembalakan hutan berkontribusi terhadap kerapnya banjir bandang dan tanah longsor. 

Berserakan sampah, limbah industri, tak eloknya pemandangan bantaran sungai, ketidakmolekan lingkungan karena gersang, dan kesemrawutan menjadi santapan mata kita sehari-hari yang menggemaskan.

Di Jerman, setiap pembelian air mineral,  berarti juga membeli botol plastiknya.  Selanjutnya melalui mesin otomat botol yang tersebar di supermarket, botol tersebut dapat ditukar dengan uang.  Sampah botol plastik teratasi dengan mekanisme ini.  

Katanya di Thailand, diterapkan kebijakan “balik muka”.  Industri yang berlokasi di sekitar bantaran sungai diminta untuk mengalihkan halaman depannya menghadap sungai.  Dengan cara ini keseharian pelaku sektor industri akan selalu disuguhi dengan pemandangan tak elok dan bau tak sedap, sehingga berimbas pada munculnya kesadaran, upaya, dan tanggungjawab untuk serius memperhatikan kelestarian ekosistem sungai.

Pada 8 Oktober 2010 di Hanoi (Vietnam), Eddy Santana Putra, Walikota Palembang, mengusung anugerah Palembang sebagai kota terbersih ASEAN untuk kategori Clean Land.  Sangat pantas kalau kota lainnya di tanah air ini meneladani Palembang.

Kebijakan cerdas dan inovatif demikianlah yang perlu ditelaah dan dikembangkan oleh pemegang amanah otoritas lingkungan di negeri ini, agar kita tak terhanyut dalam sinyalemennya Bob Doppelt. (***)

*) Sekretaris Eksekutif PPLH IPB

Editor: Bambang
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tags: , ,

Mereka Yang Mencemasi Revolusi Mesir

konten.detikpertama.com

Polisi dan demonstran terlibat dalam bentrokan di jalan-jalan Kairo. Puluhan ribu warga Mesir menuntut mengakhiri tiga dekade pemerintahan Presiden Hosni Mubarak. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

…kami tak mengharapkan bantuan apapun dari Amerika. Jangan ganggu kami!

Jakarta (ANTARA News) – Gelombang protes di Mesir bakal menjadi revolusi rakyat terbesar di Timur Tengah dan revolusi pertama di abad ini yang mungkin mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah, bahkan dunia.

Sementara Barat dan Israel cemas mengikuti perkembangan di Mesir yang adalah kunci stabilitas Timur Tengah, sekaligus sekutunya dalam melawan apa yang mereka sebut kaum Islamis.


Seperti angin Tunisia ke Mesir, badai politik Mesir juga akan menyebar ke seantero Timur Tengah, termasuk kawasan Teluk yang kaya minyak di mana kepentingan-kepentingan strategis Barat berada.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Barat tak menginginkan rezim antiBarat di Mesir. Mereka hati-hati menanggapi gejolak di Tunisia dan Mesir. Akan lain ceritanya jika revolusi itu terjadi di Suriah dan Libya.


Barat diam-diam tak ingin Tunisia jatuh ke tangan kelompok islamis seperti di Iran atau yang nyaris pernah berlaku di Aljazair saat Front Pembebasan Islam memenangkan pemilu 1991.


Namun begitu Ben Ali terjengkang, Barat segera menyatakan mendukung rakyat Tunisia. Robin Yassin-Kassab, pengarang novel “The Road to Damascus”, menyebut perubahan sikap Barat ini sebagai hipokrit.


Skenario sama tampaknya akan menimpa Hosni Mubarak di Mesir.


Mubarak sendiri berusaha untuk setidaknya tak jatuh memalukan seperti Ben Ali atau diktatur-diktatur Timur Tengah lainnya sebelum dia, termasuk Shah Iran pada 1979.


Mengutip STRATFOR, Mubarak tengah menyiapkan jalan keluar elegan dengan menunjuk mantan Kasau Ahmed Shafiq sebagai Perdana Menteri dan kepala badan intelijen Omar Suleiman sebagai wakil presiden yang lowong sejak 30 tahun lalu.


Mubarak juga mengangkat Menteri Pertahanan Field Marshal Mohammed Hussein Tantawi dan Kasad Letjen Sami Annan yang kembali ke Kairo pada 29 Januari sehabis menemui para pejabat AS, sebagai arsitek-arsitek proses politik di belakang layar.


Fakta bahwa Sami Annan berbicara dulu dengan Washington menunjukkan bahwa AS tak bisa menyembunyikan dirinya untuk tak berskenario di Mesir, khususnya untuk menghindarkan Mesir berubah dari sekutu menjadi musuh.


Mereka berusaha memfabrikasi sosok Muhammad Al Baradei yang populer di Barat namun tak lebih berpengaruh dari Ikhawanul Muslimin.


Masalahnya, menciptakan orde baru tidak semudah di zaman lalu, karena Arab mepunyai Aljazeera dan media sosial yang membuat mereka selalu bisa melihat dunia.


Israel Cemas


Bagaimana dengan Israel? Negara ini jelas sangat cemas. “Tanpa Mubarak, Israel akan nyaris tanpa kawan di Timur Tengah. Tahun lalu Israel kehilangan Turki,” kata kolumnis Aluf Benn dari koran terkemuka Israel Haaretz.


Israel terus mengikuti perkembangan dari detik ke detik di Mesir, sementara PM Benjamin Netanyahu melarang para pejabat mengomentari Mesir karena bisa ditafsirkan mencampuri urusan internal Mesir dan itu kontraproduktif terhadap posisi Israel.


“Sebaiknya Israel memang tetap diam, namun tak diragukan lagi apa yang terjadi di Mesir tak menguntungkan Israel,” kata Eli Shaked, mantan Duta Besar Israel di Mesir.


Dia berspekulasi, jika Mubarak jatuh, maka Ikhwanul Muslimin akan naik berkusa. Seketika itu juga keseimbangan kekuatan di Palestina berubah.


Otoritas Palestina pimpinan Mahmoud Abbas dukungan Barat, Isrel dan rezim-rezim Arab pro Barat termasuk Mubarak, bakal menghadapi Hamas yang lebih kuat karena tak hanya didukung Iran, Suriah dan Hizbullah, namun juga oleh sebuah Mesir yang dipimpin Ikhwanul. Israel pun ikut terancam.


Sejak 1950an, Israel menggantungkan diri pada aliensi-aliansi regional, termasuk aliansi dengan Shah Iran sebelum akhirnya ditumbangkan Revolusi Islam pada 1979.


Namun aliansi dengan Mesir-lah yang paling penting bagi Israel, terutama di era Mubarak. Kendati begitu, Mubarak tak mau terang-terangan menunjukkan bersahabat dengan Israel.


Haaretz bahkan menyebut hubungan mesra dengan Mubarak ini telah membuat Israel untuk pertama kalinya bisa memangkas anggaran pertahanannya.


Mubarak telah menjadi mitra untuk delapan PM Israel, termasuk Benjamin Netanyahu. Dan persahabatan dengan Netanyahu ini didasarkan pada kekhawatiran menguatnya pengaruh Iran dan kelompok islamis di Timur Tengah, selain oleh menjauhnya AS di bawah Barack Obama dari Timur Tengah.


Kini, Mubarak mendekati tumbang. Pilihan Israel tinggal Raja Abdullah di Yordania dan pemimpin Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Tapi, kedua orang ini tak bisa berperan sepenting Mubarak.


“Dalam situasi seperti ini, Israel akan terpaksa mencapai aliansi baru,” sebut Jerusalem Post.


Koran ini mendesak Israel untuk memberi konsesi besar kepada Palestina untuk mencegah merembetnya revolusi ke Gaza dan Tepi Barat, lalu membahayakan posisi Abbas.


Jangan ganggu


Para pemuda Mesir sendiri melihat gerakan mereka tak seideologis klaim Barat. “Revolusi ini adalah gerakan massa akar rumput yang digerakkan oleh kemelaratan, upah rendah, dan pengangguran,” kata Firas Al-Atraqchi, profesor jurnalisme pada Universitas Amerika di Kairo seperti dikutip Al-Jazeera.

Tak heran, gerakan ini diikuti oleh hampir semua kalangan yang bahkan tak mengenal demonstrasi sebelumnya. Mereka ini menemukan cara untuk bersuara guna menunjukkan kemarahan mereka.


Sejumlah pihak di Israel sepakat bahwa alasan domestiklah yang membuat Tunisia dan Mesir bergolak, bukan sentimen antiIsrael seperti sebelum ini menggerakkan demonstrasi Arab.


Seakan ingin menghibur, kolumnis Jerusalem Post Herb Keinon mengatakan rakyat Mesir hanya memprotes penguasanya. Namun, kaum muda Mesir tak mengesampingkan faktor Israel karena mereka tahu Mubarak adalah sekutu dekat Israel dan AS.


“Dia itu alat politik luar negeri Amerika dan mengimplementasikan agenda keamanan untuk Israel,” kata jurnalis dan bloger Mesir, Hossam el-Hamalawy dalam wawancara dengan Profesor Mark LeVine, seperti dikutip Aljazeera.


Sebaliknya, rakyat Mesir juga tak menganggap penting oposisi seperti Al-Baradei dan Ikhawanul Muslimin. “Rakyat telah lama dibesarkan oleh politik praktis pemerintah dan retorika kosong dari oposisi,” kata Al-Fitraqchi.


Ikhwanul Muslimin sudah tercerai berai pasca intifada Alaqsa. Lain dari itu, berbalik kooperatifnya mereka kepada Mubarak telah memudarkan popularitas Ikhwanul.

Tapi dengan fakta seperti itu pun, Barat dan Israel tetap melihat Ikhwanul sebagai ancaman utama. Saat bersamaan, mereka mengusung El-Baradei yang bukan tokoh oposisi populer di dalam negeri.


Tampaknya, Ikhwanul, Al-Baradei dan Letjen Sami Annan adalah bagian dari upaya melihat Mesir dari perspektif lain yang berbeda dari realitas, sehingga dunia mengakui keperluan Barat akan hadirnya rezim baru di Kairo yang kooperatif dengan Israel, Barat, sekaligus tak membuat gerah negara-negara Arab “moderat” sekutu Barat.


“Setiap pemerintahan yang benar-benar bersih yang akan berkuasa di kawasan ini pasti akan bertentangan secara terbuka dengan AS karena mereka akan menyerukan redistribusi kesejahteraan secara radikal dan mengakhiri dukungan kepada Israel,” kata El-Hamalawy.


AS, Israel, Barat dan negara-negara Arab sekutu Barat boleh beralasan ingin menghindarkan neraka konflik di Timur Tengah, namun rakyat Arab telah lama merasakan dukungan Barat kepada penguasa mereka sering mencipta pemimpin zalim nan korup.

“Oleh karena itu, kami tak mengharapkan bantuan apapun dari Amerika. Jangan ganggu kami!” kata El-Hamalawy. (*)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tags: , , , ,

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin

18 queries 1.427 detik